09/01/10

Resolusi 2010.. biar telat asal selamat

.
0 komentar


Happy New Year! (telat banget g sih!!)

2009 jadi amazing year buat gw.. tahun 2009 jadi tahun penuh tawa, tangis, travelling, tugas, pengalaman, ilmu, pertemanan..

Di 2009 ada perjalanan-perjalanan hidup Yang hebat..
Mulai dari Kuliah, dJ, HMJ, KKN 5 minggu dan UjungGenteng dkk, Indepth, SempuMalang, Bali dan tragedi MubesdJ, JurnalPerempuan, feminisme, RUU Rahasia Negara, OJ, Konser2Aneh, dan Banyak Kejadian lain

2009 Penuh Warna bangett..dan mari kita warnai juga 2010 dengan
JOBTRAINING-SEMINAR-SKRIPSI-LULUS!!!!
oia.. seminar RUU rahasia Negara juga! tinggal 1 minggu lagi loh!

Yuk mari kita lulus 2010.. tapi tempat Job saja masih bingung.. masa mau job maret? Tapi itu di bisnis Indo.. arghh!! Bingung.
Resolusi yang lain? kapan2 aja deh..

readmore»»

12/12/09

Pantaskah Dijuluki Agent of Change??

.
4 komentar

Semalam, saya baru saja berbincang-bincang dengan seorang teman. Dia lihat status saya di YM yang menyebutkan kalau saya sedang berkutat dengan HAM. Sebenarnya saya bilang begitu karena sedang membaca sebuah handout dari diskusi panel soal institusionalisasi akuntabilitas pelanggaran HAM yang gw ikutin hari kamis, 10 desember kemaren pas hari HAM sedunia.

lalu berbincang-bincanglah kami tentang parahnya pemerintahan Indonesia dan keanehan atau abstranya penanganan dalam memperlakukan pelanggaran HAM.
Misalnya saja, pengadilan HAM yang cuma ada di Indonesia. DI negara lain, kejahatan HAM diusut dengan pidana atau perdata saja.

Lalu, apa sih hukuman bagi pelanggar HAM? APa yang kemudian dilakukan pemerintahan Indonesia?

Pelanggar HAM itu kan kebanyakan pemerintah, atau militer. Sebenarnya bisa saja pihak swasta. Nah, yang selama ini sering terjadi kan oleh militer.
Di AS, jika terjadi pelanggaran oleh militer, kata temen saya itu, maka si tentara itu diadili di pengadilan militer, jika terbukti bisa dipecat, dan kemudian diadli di pengadilan biasa.

Nah, kalo di Indonesia? Wiranto saja yang jelas-jelas terbukti bersalah sampe sekarang masih bisa hahahihi. Malah berani nyalonin diri jadi presiden. Macam mana coba?

Perbincangan kami kemudian berlanjut pada pengalaman saya iku dalam pemutaran film ham dan disusi panel yang diadain Fakultas Hukum Unpad itu.

Menurut saya, acara HAM itu cukup besar, spanduknya besar di pampang di kampus dipati ukur (pusatnya UNpad. Karena rektorat ada di Dipati Ukur), ada pengumumannya di website Unpad, dan yang paling penting adalah gratis (mahasiswa kan hobinya cari geratisan, termasuk saya).

Tapi? spanduk besar dan pengumuan di website ternyata tidak membawa dampak signigfikan. Buktinya, yang datang sangat sedikit.

Ketika saya ikut dalam pemutaran filmnya saja, di dalam ruangan tidak ada 50 orang.. mungkin sekitar 30 orang. Lebih parahnya, sebagian besar adalah panitia. Dilihat dari almamater yang digunakan.

Pada saat diskusi panel juga demikian. Tidak jauh berbeda kondisinya. Memang, diskusi panel ini ada 3 bagian di waktu yang sama. Namun, melihat jumlah mahasiswa Unpad saja yang cukup banyak. Bukan mahasiswa Unpad deh, mahasiswa yang ada di dipati ukur kan banyak, mahasiswa hukum juga sebenarnya banyak. Tapi kenapa peserta acara ini sedikit. Segitu tidak tertariknya kah? Segitu tidak pedulinya kah?

Mahasiswa-mahasiswa yang katanya kaum intelektual, kemana mereka saat diskusi inteletual soal masalah bangsa seperti ini?

Mereka atau kita, justru memilih menonton endah resha dan erk dibandingkan ikut diskusi.

Saya bilang begini ke teman saya:Menurut lo? Mahasiswa sekarang yang apatis, atau mahasiswa dari dulu sudah apatis? (saya berpikir, sebenarnya mahasiswa dari dulu juga banyak yang apatis).
Teman saya menjawab: sama aja. dari dulu memang banyak mahasiswa yang apatis. Tapi kalau dulu itu masih ada yang vokal, sekarang g ada.

Dia cerita, beberapa waktu yang lalu dia miris mendengar ketika akan ada demo anti korupsi 9 desember kemarin, seorang mahasiswa berkata, untuk apa demo, tugas mahasiswa kan belajar.

Lalu, dimana peranan mahasiswa yang katanya agent of change? bingung jadinya, siapa sih sebenarnya yang membuat istilah itu?

oia, dari obrolan itu, saya baru tahu kalau ternyata peristiwa 98 itu bukan digerakkan oleh mahasiswa. Tapi ada orang2 dibelakang. Jadi mahasiswa cuma bergerak di lapangan saja.Hmmm... sepertinya saya memang perlu banyak membaca sejarah.

Ada lagi, belakangan ini saya sedang tertarik dengan feminisme dan mengangkat pergerakan perempuan sebagai topik tugas indepth reporting saya dan seorang teman yang punya minat yang sama.

Tapi apa pendapat teman yang lain? Mereka kemudian meledek saya, hati2 aja ntar jadi aktivis perempan, jadi feminis.

Memang kenapa jika menjadi feminis atau aktivis perempuan? toh mereka berbuat lebih banyak ketimbang orang-orang yang bisa cuma berbicara nggak jelas mengkritik mereka tanpa berbuat lebih, padahal mereka yang mengkritik tidak tahu apa itu feminisme dan apa yang sudah dikerjakan aktivis-aktivis peremuan selama ini yang mungkin hasilnya mereka nimati sekarang.

Bukan cuma itu, teman diskusi saya di YM tersebut juga sama. DIa diledek karena membaca buku-buku kiri, marxis dan teman-temannya. Padahal, saya yakin seyakin-yakinnya. Teman saya yang meledek teman saya yang membaca buku marxis ini pasti belum pernah membaca buku-buku itu secara keseluruhan, bahkan mungkin belum pernah menyentuh, hanya mendengar.

Kebanyakan bespekulasi dan berbicara bukan berdasarkan fakta dan pengalaman pribadi, tapi hanya dengar-dengar, saya pikir banyak mahasiswa yang seperti itu. Lalu, bagaimana nasib bangsa ini.

Saya sekarang sedang mencoba belajar banyak hal dan menghargai segala hal. Takut akhirnya saya justru seperti apa yang saya kritik. Bukan saya merasa lebih dari siapapun atau merasa paling benar, ini hanya ungkapan kegusaran saya.

readmore»»

04/11/09

Ternyata Bus Trans Jakarta Serakah

.
3 komentar


Selasa kemarin, saya pergi ke Jakarta lagi. Kenapa saya bilang lagi? Karena memang senin pagi saya baru kembali dari Jakarta. Badan rasanya remuk mondar-mandir Jakarta-Jatinangor-Jakarta-Jatinangor dalam 2 hari. Bahkan karena kelelahan akibat mondar-mandir itu, kini saya terserang flu.

Memang sejak jumat kemarin saya sudah kembali ke Jakarta, biasa, agenda rutin pulang ke rumah. Tapi karena harus mengurus proposal, maka seninnya, saya harus kembali ke Jatinangor terlebih dahulu. Padahal selasa pagi saya ada kegiatan di Jakarta. Sialnya, ternyata proposal belum selesai, dan itu berarti saya sia-sia kembali ke Jatinangor.

Selasa pagi itu, saya dibangunkan pukul 5 pagi oleh alarm handphone. Suaranya nyaring dan mengganggu. Saya yang baru tidur pukul 2 pagi cuma sanggup mematikan alarm handphone. Setelah berjuang melawan kantuk, saya akhirnya benar-benar bangun pukul 05.40. Saya pun bergegas mandi dan rapi-rapi.

Dari kosan saya berangkat menggunakan angkot menuju cileunyi. Selama perjalanan saya masih menimbang-nimbang, sebaiknya pergi atau tidak ke Jakarta. Di satu sisi, bnyak sekali pekerjaan di Jatinangor. Di sisi lain, takut menyesal jika tidak ikut pelatihan di Jakarta.

Ketika di dalam angkot, saya sudah berpikir tidak akan jadi pergi jika bus ke Jakarta tidak datang hingga pukul 7. Namun, rupanya sudah takdir saya untuk pergi, ketika saya sampai di cileunyi, bus itu sudah nangkring di depan halte. Oke, saya pun akhirnya berangkat.

Untungnya perjalanan Bandung-Jakarta tidak terlalu macet. Anehnya, kemacetan aru terjadi di aerah kampung rambutan yang sudah sangat dekat dengan tujuan saya,pasar rebo.

Sampai di pasar rebo, naiklah saya ke bus trans Jakarta dengan tujuan Kampung Melayu. Ketika itu, kira-kira waktu sudah menunjukkan pukul 8.45. Padahal saya ditunggu di tebet pukul 10.30.

Harapan saya naik bus trans Jakarta bisa menghemat waktu, pupus begitu saja ketika melihat busway macet. Kenapa busway bisa macet? aneh sekali bukan? Bus trans Jakarta kan punya jalur sendiri dan dibuat untuk menghindari kemacetan.

Gimana nggak macet, jika busway yang jelas-jelas jalur untuk bus, khususnya bus trans Jakarta, justru diisi oleh bus-bus lain, mobil angkot, mobil pribadi, dan motor. Jadi percuma saja ada busway kalo begitu.

Tapi hal seperti ini sudah biasa di Jakarta. Bahkan ketika jalan tidak terlalu padat pun, banyak kendaraan di luar bus Trans Jakarta terkadang lebih memilih menggunakan busway. Entah apa alasannya, hal ini sering sekali saya temukan.

Meskipun, hal seperti ini sebenarnya aneh dan sangat-sangat mengganggu, tapi masih ada hal yang menurut saya lebih "gila" lagi.

Ketika itu, bus trans Jakarta yang saya naiki sedang berada di daerah Keramat Jati dan mengalami kemacetan. Di depan bus trans Jakarta yang saya naiki terdapat bus trans Jakarta juga. Baik busway atau jalur biasa, sama saja macetnya ketika itu. Bahkan jalur biasa jauh lebih macet. Yang membuat saya tidak habis pikir adalah ketika sopir bus Trans Jakarta tiba-tiba keluar dari busway dan mengambil jalur biasa yang kondisinya lebih macet.

Hal ini membuat saya bingung sekaligus senewen. Ketika itu saya sedang diburu-buru tapi bus trans Jakarta ini justru memilih semakin menjerumuskan diri ke kemacetan. Ternyata setelah saya pikir, mungkin sopir bus ini mengambil jalur lain karena di jalurnya ada juga bus trans Jakarta lain yang posisinya persis di depan. Mungkin ia sengaja ingin membuat jarak dengan bus trans Jakarta lainnya. Dugaan saya beralasan, karena memang setelah bus trans Jakarta itu jaraknya sudah tidak terlalu dekat, bus yang saya naikin kemudian memasuki busway lagi.

Alasan itu sepertinya bukan membuat saya maklum, tapi justru semakin senewen. Kenapa harus menjaga jarak? Toh bus trans Jakarta selalu ramai penumpang, bahkan sampai-sampai manusia dipepet-pepet seenaknya. Lalu apa untungnya saya naik busway tapi jalurnya sama saja dan tetap terkena macet dan berpepet-pepetan? Belum lagi fasilitas, seperti halte yang semakin buruk.

Jujur, dulu ketika bus trans Jakarta baru beroperasi, saya sangat berharap bus ini bisa menjadi sarana angkutan umum yang nyaman, aman, cepat, dan cukup terjangkau. Apalagi ketika jalur Tanjung priok-Cilitan (domisili saya di Tanjung Priok ketika di Jakarta)ketika itu baru dibangun, banyak berharaplah saya. Saya berharap bus trans Jakarta akan mempermudah mobilisasi saya karena dapat menjangkau banyak tempat dengan sekali bayar, nyaman, dan terhindar dari macet.

Tapi, kenyataannya? Sudah macet, pepet-pepetan, dan yang lebih mengecewakan, meskipun jalur Tanjung Priok-Cilitan sudah rampung sejak dua tahun lalu , jalur ini tidak juga dioperasikan. Tanya sama Pak Fauzi Wibowo kenapa?

Padahal, pasti sudah banyak dana yang dikeluarkan. Parahnya, shelter-shelter yang sudah di bangun sudah mulai rusak sebelum digunakan sebagaimana mestinya. Belum selesai permasalahan busway, pemerintah justru menawarkan moda baru yaitu kereta api bawah tanah. Hal ini dipamerkan di Jakarta Fair. Saya kemudian teringat pada proyek monorel yang sudah mengeluarkan biaya miliaran tapi akhirnya malah tidak jadi.

Padahal ketika proyek monorel ini dibangun, pemerintah juga sedang merampungkan proyek busway. Anehnya lagi, kenapa dari awal tidak menggunakan monorel yang jelas-jelas tidak memakan tempat. Malah ketika proyek busway yang baru berjalan sebentar itu, pemerintah buru-buru membangun monorel. Namun, entah mengapa, kurang jelas alasannya, monorel dihentikan dan tidak dilanjutkan padahal sudah mengeluarkan biaya miliaran rupiah. Busway pun hingga sekarang tidak juga rampung. Masih banyak tempat yang belum terjamah. Bahkan beberapa jalur yang sudah selesai, tidak juga digunakan hingga fasilitasnya pun rusak.

Bagaimana permasalahan kemacetan bisa selesai, kalau selalu saja mencari solusi baru, tanpa konsisten merampungkan solusi yang lama.

readmore»»

01/11/09

I'm not yours

.
6 komentar


Malam gelap, tak banyak bintang. Tapi memang bukan bintang yang kita cari di tempat ini. Justru cahaya dari lampu-lampu kota yang menjadi tujuan kita duduk di atap gedung seperti ini. Bintang yang bertaburan terlalu sulit dinikmati di kepadatan kota Jakarta. Realistis saja, itu alasanmu memilih kilauan cahaya lampu kota sebagai ganti taburan bintang. Kamu juga yang memperkenalkanku pada tempat ini, mengajakku kemari dikala kamu bosan dengan rutinitas kota atau kesal dengan tekanan keluarga yang menginginkanmu menikah secepatnya dengan pilihan mereka. Aku selalu mengikutimu, mengikuti apapun yang kau mau.

Tapi malam ini berbeda. Kini kamu yang menuruti kemauanku. Bukan kamu yang mengajakku ke tempat ini seperti biasa karena bosan dengan rutinitas kantor atau tekanan keluarga yang memintamu segera menikahi gadis pilihan mereka. Kali ini aku yang memintamu. Dan seperti biasa, kamu seringkali meloloskan keinginanku, kecuali ketika aku memintamu melepaskanku.

Kau duduk disampingku memandang ke depan, ke arah kilauan cahaya lampu kota sambil berbisik. “Perempuanku, bisakah malam ini, biarkan ada kita, bukan kamu atau aku?”

Dulu aku selalu tersenyum ketika kamu memanggilku perempuanmu. Namun kini, yang terasa justru perih. Aku masih menunduk. mesti kutahu pasti matamu menatapku lekat. Aku tahu pasti dimana batasku. Aku hanya diam tak sanggup balik menatapmu.

“Kenapa kau panggil aku demikian? Kamu tahu pasti, kini aku tak suka dipanggil dengan panggilanmu itu.” Aku bertanya setengah berbisik.

“Kenapa? Bukankah dulu kau sangat suka ketika aku memanggilmu perempuanku?” Dia balik bertanya. Namun aku hanya diam.

“Aku ingin malam ini kau jadi perempuanku. Biarkan dunia berkata apapun. Kau tetap perempuanku. Dan saat ini, aku ingin hanya ada Kita.”

“Sampai kapan ada kata Kita?” Aku kini memberanikan diri menatapnya. Menatap wajah yang paling kucintai 5 tahun terakhir ini.

Dia menghela nafas. Berpaling dariku dan kembali menatap ke depan. Tangannya semakin mendekapku erat.

“Aku bukan perempuanmu Seno, ingat itu! Dan hubungan ini tak akan ada ujungnya.” Aku memalingkan wajahku dan ikut menatap ke depan seperti yang ia lakukan sambil melepaskan dekapannya.

“Tuhan.. sesulit itukah?” Tiba-tiba kau menyebutkan nama-Nya. Nama yang jarang sekali kudengar dari mulutmu.

“Sudahlah Seno! Hubungan kita dari awal memang sudah salah. Aku tak mengerti mengapa kita bisa jadi begini. Dulu kita sahabat, tak bisakah Kita kembalikan hubungan kita seperti dulu?” Aku menatapnya semakin lekat. Dadaku terasa sesak mengucapkannya.

“Kamu bisa?” Ia kembali menatapku.

“Ya .” Aku memalingkan wajah dan menjawabnya dengan suara lirih .

“Tatap aku” dia memintaku setengah membentak. Tak lama kemudian matanya berubah menjadi sayu ketika tatapan kami bertemu. Dia menemukanku air mataku dan kemudian memelukku. Akupun terisak-isak dibahunya.

“Tapi kamu menangis. Dan itu pasti jawaban bohong! Kamu sama denganku. Sama-sama tak bisa melepaskan hubungan ini. Aku mencintaimu perempuanku.”

“Berhenti memanggilku demikian Seno. Aku bukan perempuanmu.” Aku melepaskan pelukannya. Kini aku benar-benar marah. Seno benar-benar membuatku semakin marah. Marah dengan keadaan dan marah dengan Tuhan.

“Lalu kau ingin kupanggil apa? Kalau kekasihku saja bagaimana?” Tanyanya memamerkan wajahnya yang jenaka. Mencoba menghiburku. Dia lalu tersenyum dan melanjutkan kata-katanya. “Tidakkah kamu mencintaiku seperti aku mencintaimu?”

Aku menghela nafas. Mencoba menatapnya tanpa sedikitpun air mata menetes. “Aku mencintaimu Suseno Prakuso Dewo. Melebihi apapun juga”. Aku mencoba kuat. Namun tetap saja air mata ini meleleh. Kuseka air mataku dan melanjutkan setiap kata-kata dengan isakan.

“Tapi tak ada yang mendukung Kita. Keluarga kita, orang-orang disekitar Kita. Semua membenci Kita yang seperti ini. Bahkan Tuhanpun bisa murka.” Dia diam. Seperti mencoba menelaah setiap kata yang kuucapkan.

“Tuhan.. kenapa kamu buat kami bingung.” Kamu bertanya seolah Tuhan ada didepanMu.

“Ini semua memang sejak awal sudah salah. Kamu, Aku, Kita sama-sama tahu kita salah. Dan kita terjebak terlalu dalam. Kini, janganlah Kita menyalahkan Tuhan.” Aku mencoba meraih bahunya, mencoba menenangkannya, padahal hatiku juga sama kacaunya.

“Pulanglah Seno, semua orang menunggumu. Keluargamu, mereka membutuhkanmu. Semuanya menantimu dirumah. Jangan sampai mereka tahu kamu masih bersamaku disini. Demikian juga aku. Tinggalkan saja aku sendiri disini.” Aku kemudian bangkit dari posisi dudukku dan mencoba memberikan tanganku.

“Tapi, kau perempuanku. Tak mungkin aku meninggalkanmu.” Kau menetapku dan tetap tak mau bangkit dari posisimu. Namun tanganmu justru menggenggamKu erat.

“Sudahlah. Kalau begitu biar aku yang pergi meninggalkanmu duluan. Kembalilah pada keluargamu. Anggap saja Kau dan Aku hanya kenangan buruk yang harus dilupakan. Terima Kasih atas segalanya.” Aku akhirnya menarik tanganku darimu. Berpaling darimu dan meninggalkanmu.

“Tunggu” Suara itu menghentikan langkahku. Namun, aku tak bisa menoleh dan tak boleh menoleh sedikitpun. Aku hanya diam mendengarkan.

“Kau bukanlah kenangan buruk. Kau kenangan terindah dalam hidupku. Dan kau akan tetap menjadi perempuanku.” Teriaknya membuatku ingin sekali dan berpaling memeluknya. Tapi aku harus kuat.

“Demikian kau juga dihatiku Sen. Kau adalah kenangan terindah. Namun tetap aku bukan perempuanMu. Terima kasih Seno..” Lirihku dalam hati. Biarlah hanya aku dan Tuhan yang tahu. “Maafkan Aku Tuhan. Ampuni Aku.”

“Mahendra Atmaja”

Kau meneriakkan namaku. Namun, aku tetap harus berjalan ke depan. Tak boleh lagi menoleh ke belakang. Biarlah kisah itu berlalu dan kita sama-sama memulai lembaran baru. Tak ada lagi kata “kita”. Kini hanya ada kata kau atau aku.


Jakarta, 31 Oktober 2009
23.14

readmore»»

29/10/09

Gerhana Kembar

.
0 komentar


Penulis : Clara NG
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2007
Jumlah Halaman: 358 halaman

Andai saja aku punya jawaban agar setiap manusia agar dapat saling mengerti dan menghormati satu sama lain. Yang aku punya hanyalah sekelumit kisah yang berawal dari kegelisahan. Fiksi adalah medium yang terbaik untuk melihat dunia dengan cara pandang yang berbeda—Clara NG

Suatu ketika Lendy, editor buku yang bekerja pada perusahaan penerbitan, menemukan naskah tua dan potongan-potongan surat di dalam lemari baju neneknya. Sang nenek ketika itu sedang dalam keadaan sekarat di rumah sakit. Lendy pun yakin, kisah dalam naskah itu adalah kisah nyata perjalanan cinta sang nenek.

Naskah tua dan potongan-potongan surat itu seolah membawa Lendy masuk ke dalam kehidupan masa lalu neneknya yang selama ini tersimpan rapat dan tidak dia ketahui. Nenek yang dikenal lembut, baik, dan penyabar ternyata memiliki kisah cinta yang terlarang yang selama ini selalu dianggap sebagai sebuah dosa.

Buku ini mengisahkan perjalanan cinta yang melibatkan dua orang perempuan. Topik yang sensitif, dan jarang disentuh oleh para penulis Indonesia.

Penulis mencoba menyajikan kisah cinta homoseksual—lesbi—yang selalu dianggap sebagai sebuah dosa, tanpa menghakimi kisah cinta kaum minoritas ini.

Selama ini kaum homoseksual dianggap sebagai sampah masyarakat. Kisah cintanya tidak diakui dan cenderung dihakimi sebagai cinta yang terlarang. Penulis melihat dari sudut pandang yang berbeda dan menjadikan novel ini sebuah cermin terhadap realita yang ada. Cinta bukan hanya milik sepasang perempuan dan laki-laki.

Cerita ini pun mendapatkan respon yang cukup baik meskipun memiliki topik yang sensitif. Cerita ini pernah dimuat bersambung di harian kompas, Oktober 2007-Januari 2008, sebelum akhirnya dibukukan.

Dari buku ini, kita bisa melihat kisah homoseksual dari sudut pandang yang berbeda, tanpa mencela dan tanpa menghakimi.

readmore»»

27/10/09

Still waiting n waiting

.
0 komentar

Gedung itu dipenuhi oleh orang-orang masa lalu Adisty. Adisty harus mencermati dengan seksama orang-orang di sekelilingnya, boleh jadi dia masih mengenal salah satu dari mereka atau malah dia yang dikenali.

“Adisty” Seseorang menyentuh bahunya.
Deg. Jantung Adisty berdetak kencang. Dia masih kenal suara itu meskipun sudah sangat lama sekali tidak mendengarnya. Dia pun menoleh ke arah pria tersebut.

“Masih inget gw nggak?” tanya pria itu.
Adisty masih terdiam. Kaget melihat sosok pria di depannya.

“Masa lupa sih Ty?” Pria itu semakin mendesak Adisty untuk mengingatnya.

“Ehmm.. maaf banget… tapi gw lupa nama lo, kita dulu pernah sekelas kayanya deh.” Bohongnya.

Mana mungkin Adisty bisa lupa namanya. Bimo, orang yang selama ini membuat dia tidak membiarkan orang lain masuk ke dalam hidupnya. Itu dilakukannya hanya untuk membuat Bimo terlihat tidak spesial untuk Adisty.

“Bimo, Baru juga beberapa tahun kita nggak ketemu lo udah lupa sama gw, 7 tahun yah kita nggak ketemu?” Bimo memperlihatkan senyumannya.

“Iya, kayanya udah 7 tahun. Maaf yah Mo… daya ingat gw soal nama kurang bagus. Lo juga sih ngilang, yang lain masih suka pada kumpul-kumpul meskipun jarang banget. Kita terakhir kumpul di Plaza Senayan beberapa bulan yang lalu. Ada Lala, Desi, Dito, Wawan, Dimo, Yuli aja rela dateng dari Sulawesi buat kumpul sama kita. Lo kok nggak dateng?” Adisty berusaha memnuhi rasa penasarannya kemana saja Bimo menghilang selama ini.

“Masa? Gw nggak tau tuh ada kumpul. Lagi banyak kerjaan juga kemarin-kemarin. Maklum… kerja di media diburu rating, jadi harus puter otak bikin program-program yang laku. Ngomong-ngomong lo sekarang kerja dimana?” Bimo

“Gw sekarang ngurusin Wedding Organaizer bareng temen-temen. Masih kecil-kecilan sih tapi, ordernya lumayan.”

Obrolan demi obrolan mengalir dengan lancar. Adisty dan Bimo pun dekat seperti dulu. Seperi tidak ada jarak rasanya. Padahal sudah 7 tahun waktu memisahkan mereka. Adisty masih menaruh harapan seperti dulu. Bimo terlihat begitu menikmati percakapan mereka. Percakapan mereka mengingatkan Adisty pada masa-masa, dia dan Bimo begitu dekat, meskipun hanya sebatas teman.

“Heh.. Kalian disini,” suara Lala mengagetkan mereka berdua.

“Lo dari tadi kemana aja sih.. Gw cariin juga, gw kan sendiri” Adisty menampakkan wajahnya yang kesal melihat Lala yang sejak awal hilang bersama Dito.

“Yaelah… Adisty..Adisty… Lo kan dari tadi bareng gw. Gw dianggap apa? Nggak suka bareng gw?” Bimo memasang muka sok marah.

Adisty hanya tersenyum. “Yaampun Mo. Gw mah nganggap lo spesial banget kaliiii… lo aja yang nggak ngerti-ngerti dari dulu” rutuk Adisty dalam hati, tak berani mengatakannya secara langsung.

Adisty, Bimo, Lala dan beberapa teman lain pun berbincang-bincang, mengingat-ngingat masa lalu mereka. Sesekali menertawakan kebodohan mereka ketika muda. Disela-sela obrolan itu, Adisty tak henti memandang Bimo. Sesekali mata mereka bertemu, Adisty hanya mengunggingkan senyuman yang dibalas senyuman oleh Bimo.

Lama kelamaan teman mereka pergi satu per satu. Tinggallah Adisty dan Bimo. Tiba-tiba datang keiinginan kuat Adisty untuk mengatakan sesuatu.

“Mo, gw pengen cerita, tapi lo nggak boleh ketawa dan berkomentar macem-macem” Adisty akhirnya memberanikan diri untuk mulai menyampaikan hal yang selama ini tertunda.

“Apaan? Pasti sesuatu yang aneh ya? Ampe lo nggak bolehin gw ketawa” Bimo tersenyum menanggapi permintaan Adisty.

“Beneran Mo, kalo nggak mau janji, mendingan gw nggak usah cerita.” Adisty merengek sekalligus mengancam.

“Iya-iya, emang mau cerita apa sih Ty?” Bimo kembali tersenyum.

“Gini Mo…” Adisty mulai terbata-bata. “Sebenernya……”

“Sebenernya apa?” Bimo mulai tidak sabar

“Sebenernya… Dulu… Ini dulu loh… Beneran ini dulu…” Adisty berbicara semakin tidak jelas

“Iya, dulu……” Bimo terlihat sabar mendengarkan.

“Dulu… gw suka sama lo Mo…” Akhirnya kata-kata itu meluncur dari bbibirnya. Adisty sebenarnya masih merasakan rasa itu pada Bimo hingga detik itu. Tapi hanya tersimpan dalam hatinya, yang hanya dia dan Tuhan yang tahu.

“Tapi itu kan dulu… sekarang mah udah nggak… Udah lama juga kita nggak ketemu. Lo sih ngilang.” Dia berusaha terlihat biasa dan menyangkal perasaannya sendiri.

“Masa sih.. masih suka sampe sekarang juga nggak papa kok..” Bimo malah meledek dirinya.

“Bimo ah.. males.. tau gini.. nggak mau cerita deh!” Adisty menampakkan muka cemberutnya, namun senang dalam hati karena Bimo tidak merasa terganggu.
Bimo pun tiba-tiba diam. Ekspresi mukanya tiba-tiba terlihat serius.

“Tapi Ti… sebenernya.. dulu juga gw suka sama lo.. tapi lo kan udah punya pacar waktu itu.” ujar Bimo dengan mimik canggung.

“Pacar yang mana? Kok lo bisa tau? Kan gw nggak pernah cerita-cerita ke siapa-siapa kalo gw punya pacar. Itu pun dia jauh di Malang.”

“Inget nggak.. dulu gw suka pinjem Hp lo.. bilang mau maen game di Hp lo?? Sebenernya gw ngecek inbox Hp lo” Bimo semakin canggung.
Adisty hanya bisa diam. Merutuki kebodohannya menerima cinta Dira dulu… Padahal jelas-jelas dia mencintai Bimo.

“Udahlah Mo.. itukan masa lalu.” Adisty mencoba tersenyum.

“Iya.. Itu kan dulu… ” Bimo juga ikut tersenyum.

Mereka pun kembali asik dalam obrolan. Dalam hati Adisty berharap lebih pada Bimo. Adisty berharap Bimo bisa kembali mencintainya seperti dulu..seperti yang Bimo ceritakan.

“Eh.. ngomong-ngomong tadi kesini sama siapa?” Bimo bertanya sambil melihat sekeliling.. seperti mencari seseorang.

“Sendiri. Lo ama siapa kesini?” Adisty memperhatikan Bimo yang terliht bingung.

“Sama…” belum selesai berkata, tiba-tiba muncul seorang perempuan dari belakang Bimo..

“Mo.. dari tadi kemana aja sih.. aku cariin juga.. tadi aku keasikan ngobrol sama temen aku.. ternyata ada temen kuliah aku dateng kesini sama pacarnya juga”
Deg. Jantung Adisty serasa berhenti berdetak melihat perempuan ini tiba-tiba datang dan bersikap mesra pada Bimo.

“Aku dari tadi disini kok. eh ya, ra.. kenalin.. ini temen aku..” Bimo mengenalkan perempuan itu pada Adisty.

“Rara”

“Adisty”

mereka pun berjabat tangan dan tersenyum satu sama lain.

“Oh iya Ra.. si Adisty ini punya WO loh…iya kan Ty?” Bimo mempromosikan WO milik Adisty.

Adisty hanya tersenyum.

“Kebetulan nih.. bisa ngurusin pertunangan kan Ty?” Rara bertanya dengan nada berharap

“Bisa” Adisty mencium gelagat-gelagat tidak enak.

“Wah.. asik… Aku lagi cari WO sebenernya dari kemarin” Rara terlihat seperti anak kecil yang baru mendapatkan coklat. Bimo tersenyum sayang melihat Rara yang terlihat senang. Adisty? Hatinya tiba-tiba sakit, terjebak dalam situasi yang tidak enak.

“Bisa pake jasa WO aku kok. Tinggal ke kantor aku aja di Kelapa Gading. Kapan kalian tunangan?” Adisty berusaha ramah, dia memberikan kartu namanya pada Rara. Padahal di dalam hatinya Adisty merasa sakit. Penantiannya hampir 10 tahun kandas begitu saja.

“Kita?” Rara tiba bertanya heran. Bimo juga terlihat heran dan melihat sekellingnya, namun tidak menemukan orang yang dituju.

“Iya, kalian. Kalian berdua mau tunangan kan?” Adisty jadi ikut bingung melihat sikap mereka.

“hahahahahahahaha……….” Rara dan Bimo justru tertawa medengar kata-kata Adisty. Adisty merasa mereka berdua aneh.

“Rara bukan mau tunangan sama Aku, Ty.. Masa Rara tunangan sama sepupunya sendiri. Dia ini sepupu aku” Bimo menerangkannya dalam tertawa.

bersambung

readmore»»

He's just not that into you

.
1 komentar


Are you the exception...
or are you the rule?

Itu adalah sebuah slogan yang melekat dalam film He's just not taht into you. "He's Just Not That Into You" sebenarnya film yang diadaptasi dari buku psikologi populer laris karya Greg Behrendt dan Liz Tuccillo tahun 2004.

Buku ini sendiri terinspirasi salah satu episode seri laris "Sex and the City" saat seorang cowok menolak tawaran Miranda untuk mampir ke apartemennya dengan alasan ada rapat di kantornya besok pagi.

Teman Miranda menyimpulkan bahwa cowok itu tidak mau denganmu (he's just not that into you) sambil menambahkan, "Saat seseorang benar-benar mau, ia akan mampir, berbicara atau tidak bicara."

Film ini seperti film love actually yang mengangkat beberapa cerita dalam satu film, namun masih saling berhubungan satu sama lain dan punya garis besar yang sama.
Awalnya, tertarik nonton film ini karena pemainnya bagus-bagus. Ada scarlett johansonn, jennifer aniston, drew barrymore, jennifer connelly, ben affleck, sama morgan lilly. Selain itu, melihat covernya, sepertinya filmnya juga bagus

Ada beberapa aturan dalam hubungan pria dan laki-laki yang diutarakan dalam film ini. Aturan itu dijadikan salah satu cewek bernama Mandy dalam mencari pasangan. Aturan ini juga yang akhirnya berpengaruh pada hidup para tokoh-tokohnya.

Nah, menurut saya dan teman yang sudah nonton film ini, film ini bisa jadi pelajaran berharga nih. Tapi ya namanya juga film barat, aturannya yah aturan disana,bukan aturan di Indonesia. Meskipun ada juga aturan yang universal.

Masalahnya adalah tidak semuanya sesuai dengan aturan secara garis besar, namun lebih banyak yang seperti itu. Tokoh Mandy yang menjadi pengait dari setiap cerita akhirnya berakhir dengan hubungan yang ada diluar aturan yang dia buat sendiri.
nah,.. sekarang pertanyaannya
are u the rule?
or are u the exception?

readmore»»